Sejarah Awal

Pada tahun 1959, Rm. C. H. Widjajasoeparta, Pr., selaku Romo Paroki Katedral saat itu, membentuk kring baru yang merupakan bagian dari Paroki Katedral Semarang. Wilayah kring ini mulai dari kampung Lemah Gempal menyusuri Kaligarang, hingga jembatan besi Tugu Suharto bagian selatan. Kring ini diberi nama kring Kaligarang. Berbicara mengenai Wilayah Sampangan saat ini memang tidak terlepas dari keberadaan kring Kaligarang, karena wilayah St. Paulus Sampangan yang ada sekarang ini merupakan perluasan dari wilayah yang dahulu bernama Kring Kaligarang.

Bangunan Gereja Santo Paulus Sampangan

Perkembangan umat di Kring Kaligarang pada saat itu semakin pesat sehingga pada tahun 1962 dibentuklah Kring baru yang menampung umat di wilayah Sampangan menjadi satu kesatuan. Kring ini diberi nama Kring Petompon dengan ketuanya Bapak St. Sanyoto. Wilayah Kring Petompon membentang kurang lebih 6 KM sepanjang Timur Kaligarang. Kring Petompon ini mencakup Kelurahan Petompon bagian selatan, Kelurahan Karang Kumpul, Kelurahan Sampangan, dan Kelurahan Pegandan. Karena wilayah Kring petompon ini cukup luas maka Kring Petompon dibagi menjadi 3 blok, yaitu blok I bernama Petompon I dengan wilayah dari perbatasan lampu merah Jl. Kaligarang hingga Masjid Jl. Kelud Raya. Blok II yang meliputi Jl. Tampomas Selatan sampai Jl. Kelud Utara atau kawasan IKIP lama, bernama Petompon II. Sedangkan blok III atau yang disebut Karang Kumpul, yang wilayahnya terdiri dari Jl. Kelud Selatan, perbatasan perbukitan stonen, hingga ke arah Sampangan. Walaupun wilayahnya cukup luas namun jumlah keseluruhan warga Katolik saat ini hanya sekitar 100 orang yang terhimpun dalam 30 KK.

Saat itu, kondisi Kring petompon jauh dari apa yang kita rasakan saat ini. Di bagian selatan Kring ini masih berupa gunung padas. Jalan waktu itu masih berbatu-batu. Sebagian besar daerah ini berupa hutan rawa dengan ilalang yang tinggi-tinggi. Listrik saat itu belum ada sehingga penerangannya masih menggunakan lampu teplok. Rumah orang Katolik yang satu dengan yang lain masih berjauhan. Dan jika ada doa bersama di rumah salah satu umat, oborlah yang menjadi teman penerangan saat perjalanan. Dengan segala keterbatasan itu, kebersamaan umat tetap ada dan tidak menciutkan semangat umat.

Sebelum mempunyai kapel Sampangan, umat Katolik Kring Petompon berusaha membeli tanah seharga Rp. 23.000,- seluas 10 rumah untuk membagun kapel sebagai tempat ibadah. Setelah terkumpul sejumlah uang dari umat, maka dibelilah sebidang tanah di Desa Nguwok daerah Karang Kumpul dengan kondisi tanah yang tidak rata. Umat berkerja bakti bersama untuk membangun sebuah kapel.

Setiap minggu, umat kerja bakti bersama untuk membersihkan kapel, yang kebetulan letaknya dikelilingi semak. Tetapi pada perkembanganya, penduduk sekitar tidak mengijinkan bila di situ dibangun sebuah gereja. Saat ini kapel diakui oleh Kelurahan setempat sebagai miliknya. Hal itu karena umat Katolik sudah kehilangan bukti kepemilikan. Menanggapi pemekaran kotamadya Semarang yang terjadi pada sekitar tahun 1967, maka areal sawah, tegalan, serta rumpun bambu dan semak belukar di kawasan Sampangan, Karangkumpul, Bendan, Monte, dan Tugu Suharto segera berubah menjadi daerah pemukiman penduduk yang cukup padat. Seiring pertumbuhan penduduk yang semakin banyak, dipastikan jumlah umat Katolik di daerah ini juga ikut bertambah. Mengamati perkembangan ini, ada pemikiran dari keuskupan untuk membeli tanah di tempat bangunan gereja saat ini. Pihak Keuskupan Agung Semarang menugaskan Romo Tot Voorts, yang saat itu menjabat sebagai Sekjen keuskupan. Akhirnya pada tahun 1976 perjalanan sejarah gereja di Sampangan dimulai dengan keberhasilan memiliki tanah di Jl. Menoreh Utara Raya. Sebidang tanah yang dibeli Keuskupan ini yang sekarang menjadi Gereja St. Paulus Sampangan.

Kawasan Sampangan ini, pertama kali dipublikasikan oleh Romo A. Djajasiswaja,Pr., selaku Romo Paroki Katedral Semarang pada tahun 1977. Ketika itu kawasan Sampangan masih menjadi bagian dari wilayah Petompon. Romo Djajasiswaja,Pr meminta kepada bapak St. Sudarman untuk melakukan pendataan warga Katolik dikawasan Sampangan. Bapak St. Sudarman melakukannya dengan mendatangi Ketua RT/RW setempat menanyakan warga Katolik dan mendatangi rumah satu per satu. Pendataan dilakukan sampai batas trowongan jalan tol. Dari pendataan tersebut diketahui bahwa jumlah warga Katolikpun meningkat mencapai kurang lebih 400 orang.

Melihat jumlah umat Katolik yang bertambah, maka wilayah Kring Petompon bertambah pula menjadi empat blok, dimana blok IV ini diberi nama Sampangan, yang wilayahnya mencakup kawasan Sampangan sampai ke arah Tugu Suharto. Pertambahan umat Katolik yang cukup pesat ini disebabkan karena pada tahun 1976 mulai membangun flat rumah susun oleh Perumnas di kawasan Sampangan.

Lahirnya 4 wilayah baru sebagai hasil devisio dari Kring Petompon, menandai pula berdirinya Wilayah Sampangan sebagai salah satu wilayah di Paroki Katedral. Peresmian momentum ini berlangsung dalam misa kudus oleh Rm. A. Djajasiswaja,Pr yang dilaksanakan di halaman calon Gereja Sampangan pada Hari Minggu Pon (Minggu ke-3 Bulan Agustus), Tepatnya tanggal 21 Agustus 1977 dimulai pukul 08.00 WIB. Pada misa kudus itu juga dilantik 4 Pamong Wilayah yatu Bapak St. Suhud (Petompon I), Bapak St. Sanyoto (Petompon II), Bapak A. Sumarno (Petompon Karang Kumpul), dan Bapak St. Sudarman (Sampangan). Tanggal tersebut ditetapkan sebagai tanggal kelahiran gereja/kawasan Sampangan. Wilayah Sampangan saat itu mencakup 5 kelurahan, yakni Kelurahan Petompon, Bendan Ngisor, Sampangan, Bendan Duwur, dan Ndelik-Sukorejo. Kawasan Sampangan letak geografisnya membentang sepanjang tepi Timur sungai Kaligarang sepanjang 6 km. Batas sebelah Utara adalah Wilayah Kaligarang, Paroki Katedral Semarang, sebelah Timur adalah pegunungan Candi Baru, sebelah selatan adalah Paroki Ungaran, dan sebelah Barat adalah sungai kaligarang. Wilayah Petompon I, Petompon II, dan Karangkumpul medannya berbukit-bukit dan sukar dilalui kendaraan. Sedangkan wilayah Sampangan berada di dataran rendah dan mudah dilalui kendaraan.

Koordinator Wilayah (Korwil), berdasarkan kesepakatan hasil pertemuan tanggal 3 Oktober 1977, dijabat secara bersama-sama. Seiring perkembangan umat, maka pada tanggal 29 Maret 1979 disepakati bahwa masa bakti kepengurusan selama 2 tahun dengan Korwil pertama dijabat oleh Bapak St. Sudarman.

Misa kudus di Gereja Sampangan pasca pemberkatan gereja pada tahun 1977 hanya dilakukan 4 kali, yakni pada tanggal 21 Agustus 1977, 16 Oktober 1977, 20 November 1977 dan Perayaan Natal pada tanggal 25 Desember 1977. Hal ini disebabkan karena kesibukan romo dan minimnya jumlah romo Paroki Katedral.

Namun sekali lagi, dengan keterbatasan yang ada saat itu, tidak mengurangi niat mereka untuk mendengarkan firman Tuhan dan menerima komuni suci. Buktinya setiap minggu tetap dilaksanakan ibadat sabda di gereja Sampangan pada pukul 08.00 yang ditutup dengan penerimaan komuni suci yang diambil dari Gereja Katedral pada pagi harinya.  Ibadat dipimpin oleh seorang prodiakon. Walupun hanya ibadat dan bukan misa, umat yang berpartisipasi cukup banyak. Gereja lama masih berbentuk rumah biasa dengan luasnya kurang dari setengah bangunan sekarang, dibangun di atas permukaan tanah yang tidak rata dan diselimuti semak, tidak dapat menampung seluruh umat yang berpartisipasi dalam ibadat. Oleh karena itu, Bapak Heru Subroto (Alm) yang waktu itu menjabat sebagai lurah Sampangan, membawa tenda parsit dan memasang di halaman untuk umat setiap kali ibadat. Perlatan – peralatan gereja, seperti meja, kursi dan tikar merupakan sumbangan umat.

Karena desakan dari sebagian besar umat wilayah Sampangan untuk dapat diadakanya misa kudus di Gereja Sampangan dan atas usaha romo Natasusilo,Pr (Alm) selaku romo Paroki Katedral saat itu, maka mulai bulan Maret 1978 misa kudus diadakan setiap minggu ketiga pada tiap bulanya pukul 08.00. dan karena Rm. Natasusilo,Pr (Alm), setiap tahun di Gereja Sampangan pasti ada misa Perayaan Natal dan Perayaan Paskah. Setelah itu pada tahun 1984, Rm. Windyo Wiryono,Pr, waktu misa diganti pada hari Sabtu pukul 17.30. Atas jasa Rm. Al. Hantoro,Pr, sejak tahun 1993, misa kudus di Gereja Sampangan diadakan dua kali dalam seminggu yaitu hari Sabtu pukul 17.30 dan Minggu pukul 06.30.

Pada awal tahun 1980-an, perkembangan jumlah umat Katolik di wilayah Sampangan mulai pesat. Untuk itu perlu memulai adanya pemekaran wilayah agar memudahkan dalam koordinasi dan pelayanan terhadap umat. Pada tanggal 1 November 1980, wilayah Sampangan dipecah menjadi Sampangan I (lama) dan Sampangan II. Di mana kali Tuk yang membentang di sebelah bangunan SMP 13 menjadi batasnya. Sebelah timur kali merupakan wilayah Sampangan I dengan pamong Bapak St. Sudarman dan sebelah barat kali merupakan wilayah Sampangan II dengan bapak Pujo Sanyoto (Alm) sebagai pamongnya. Bak benih yang tumbuh subur, umat Katolik di wilayah Sampangan pun semakin bertambah. Tanggal 1 Maret 1983, wilayah Sampangan II mengalami pemekaran menjadi 3 lingkungan yaitu wilayah Sampangan II, wilayah Pegandan, dan wilayah Tugu Suharto. Tahun 1986, mulai disebutkan wilayah Sampangan bernaung kepada Santo Paulus  sebagai Santo Pelindung gereja. Di tahun yang sama Sampangan I (lama) berubah nama menjadi Sampangan Baru, sedangkan Sampangan II (lama) berkembang menjadi Sampangan I dengan basis umat di timur jalan Menoreh Raya dan Sampangan II yang berbasis di barat jalan Menoreh Raya. Pada tahun 1994, karena jumlah KK yang berkembang, kini giliran lingkungan Karang Kumpul yang dipecah menjadi 2 yakni Karang Kumpul I dan Karang Kumpul II. Dan Tugu Suharto pun tidak luput untuk berkembang menjadi Tugu Suharto I dan Tugu Suharto II. Maka sejak tahun 1994, wilayah St. Paulus Sampangan telah memiliki 10 lingkungan yang dibagi dalam 2 wilayah.

Pada tahun 2003, wilayah St.Paulus Sampangan mengalami pemekaran kembali. Lingkungan Tugu Suharto II mekar menjadi lingkungan Tugu Suharto II dan lingkungan Transpuri. Lingkungan Pegandan mekar menjadi lingkungan Pegandan dan Bendan Ngisor. Sebenarnya pemekaran lingkungan Bendan Ngisor ini terlalu dini karena jumlah umat di lingkungan ini tidak memadahi. Oleh karena itu, lingkungan Sampangan Baru mengirimkan 8 KK untuk menjadi warga lingkungan Bendan Ngisor. Dan saat misa Paulusan tahun 2003 yang dipimpin oleh Rm. J. Sukardi,Pr, dikumandangkan bahwa St. Paulus Sampangan memiliki 12 lingkungan. Dimana pada tahun 2004, masing-masing lingkungan telah memiliki Santo Santa Pelindung masing-masing.

Ketika Romo Van Voorts,Sj, pada tahun 1976 membeli tanah gereja ini, di atasnya sudah ada bangunan berlantai tanah, beratap seng, dan berdinding papan, dengan ukuran 6×3 m2. Seiring dengan bertambahnya umat dan mulai tidak tertampungnya umat yang mengikuti misa, maka dikehendaki dibangun bangunan yang baru menggantikan bangunan lama. Oleh karena itu, pada tanggal 29 September 1979, pengurus gereja membentuk panitia pembangunan gedung gereja, yang diketuai oleh Bapak L. Sukardjo, dengan tugas mencari dana dan membangun gedung gereja. Pada hari Minggu Palem tanggal 30 Maret 1980, dalam misa Rm. H. Natasusila,Pr, melakukan peletakan batu pertama gedung gereja Sampangan, di sudut utara calon panti imam. Umat bersama-sama menata gedung gereja dengan memotong semak-semak di gereja, dan kemudian meratakan tanah yang bergelombang untuk ditinggikan , agar bisa membuat bangunan baru, yang nantinya akan dijadikan altar. Tiga periode awal panitia pembangunan gereja sampangan adalah Bapak L. Sukardjo, Bapak St. Sanyoto, Bapak P. Sumarman.

Karena letak gereja kita yang di dalam kampung, maka pada tahun 1985 keuskupan memberi uang kepada panitia yang dibentuk untuk membeli tanah didepan lapangan STO, yang sekarang menjadi Universitas Wahid Hasyim. Dengan Rp. 27.500.000,00 panitia membeli tanah tersebut kepada Bapak Imam Swasto yang berdomisili di tegal. Sayangnya tanah ini bermasalah karena bersertifikat double. Masalah ini sempat menimbulkan kecurigaan dan konflik antara panitia dan umat yang lain. Umat merasa tertipu dan uangnya hilang. Ada yang menuduh dan dituduh. Sampai ada surat kaleng yang isinya menyatakan bahwa uang yang ditipu sudah dipakai pengurus. Padahal sebenarnya uang yang dipakai untuk membeli tanah adalah uang milik keuskupan. Tidak ada uang umat yang ditujukan sebagai sumbangan untuk membeli tanah. Oleh sebab itu panitia juga kesal kepada umat yang asal bicara dan menfitnah. Akhirnya panitia bisa menemukan Imam Swasto. Untuk pertama kali, Imam Swasto membayar Rp. 8.550.000,00. Lalu membayar lagi Rp. 13.033.000,00. Kemudian panitia mendapat surat kuasa dari Rm. Wiryodarmaja,Pr, untuk meyelesaikan kasus ini. Panitia berhasil mengambil tanah bapak Imama Swasto yang di Tegal dan memindah tangankannya kepada Rm. Wiryodarmaja,Pr, sebagai wakil dari keuskupan. Tanah itu lalu dijual, dan uang hasil penjualan tanah dikembalikan ke keuskupan. Proses penjualan selesai tahun 1994. Imam Swasto juga memberikan mobilnya sebagai ganti rugi kepada pihak keuskupan. Sehingga setelah dihitung, uang yang tadinya dipakai untuk membeli tanah di Jl. Menoreh Tengah ini bisa kembali sepenuhnya kepada keuskupan.

Ketika masalah tanah di STO belum selesai, pada awal tahun 1990, pengurus bersama romo paroki berencana memindahkan letak gereja dengan membeli tanah. Hal ini disebabkan pada 1990, daerah Sampangan terjadi banjir bandang. Gereja Sampangan tidak luput dari serangan banjir ini. Maka diputuskan untuk mencari tanah yang letaknya lebih tinggi untuk dibangun sebuah gedung gereja.

Bersama dengan Rm. Wiryodarmaja,Pr, pengurus gereja menemukan tanah dan membeli tanah seluas 4 bidang tanah di daerah Bukit Unggul. Dengan mendirikan gedung gereja di daerah tersebut pada saat itu diharapkan gereja tidak diserang banjir kembali. Lalu pengurus membentuk panitia Pembangunan Gedung Gereja Sampangan Semarang untuk mengurus segala perizinan pembangunan gereja di daerah tersebut. Jalan untuk mendapat perizinan untuk membangun gedung gereja di Bukit Unggul tidak mulus. Banyak halangan dan rintangan yang terjadi.

Panitia harus memiliki data persetujuan dari warga setempat yang menyatakan bahwa warga setempat tidak berkeberatan dengan dibangunnya sebuah gereja di daerah tersebut. Panitia telah mendapatkan tanda tangan dari 30 warga setempat yang tidak keberatan dengan keberadaan gedung gereja di dekat rumah tinggal mereka. Namun kegiatan ini mengundang keresahan pada warga kelurahan setempat. Keresahan itu dibuktikan dengan adanya gerakan mengumpulkan tanda tangan warga yang tidak setuju dengan adanya pembangunan gereja di Bukit Unggul. Dari tanda tangan, 600 warga yang tidak setuju. Bahkan warga yang tadinya menandatangani setuju berubah menjadi ikut membubuhkan tanda tangan tidak setuju.

Dengan adanya keresahan-keresahan tersebut panitia sering dipanggil di gedung kelurahan setempat untuk melakukan forum dialog dengan anggota LKMD setempat agar mengurangi suasana resah tersebut. Dan untuk meredakan keresahan tersebut, panitia diundang ke kantor Sospol Kodya Semarang untuk keperluan koordinasi masalah rencana pendirian gereja Katolik. Dalam pertemuan tersebut panitia ditanya seputar kegiatan pendirian gereja sampai pada izin dengan warga setempat.

Akhirnya memang, daerah tersebut diputuskan tidak didirikan gedung gereja. Dan sekarang masalah tanah tersebut sudah diambil alih keuskupan untuk diselesaikan.

Mungkin benar kita tidak jadi mendirikan gereja di tempat tersebut, karena memang daerahnya tidak dijangkau oleh angkutan umum dan umat kita kebanyakan menggunakan sarana ini untuk pergi ke gereja dan beribadat. Dengan kejadian ini, umat Sampangan belum dapat memiliki tanah yang luas untuk dibangun gedung gereja yang dapat menampung seluruh umat Sampangan.

Pada tahun 2000, gedung Gereja St. Paulus Sampangan mulai direnovasi. Dan pada tanggal 8 September 2001, Gereja St. Paulus diresmikan oleh Bapa Uskup dalam misa kudus.

Peresmian gereja Santo Paulus Sampangan oleh Mgr. Ignatius Suharyo