Perkembangan Gereja

Gereja Santo Paulus Sampangan yang telah direnovasi

Pada tahun 2000, bangunan gereja yang sudah berusia 25 tahun tersebut, kondisinya sedemikian rusak dan memprihatinkan terutama dalam konstruksi kuda-kuda yang terbuat dari kayu dan atap bangunan yang menggunakan asbes bergelombang. Diperoleh kesepakatan bulat bahwa bangunan gereja yang lebih representative akan dibangun di lokasi lama melalui upaya renovasi. Pada tahun ini, renovasi dilakukan secara besar-besaran karena merombak keseluruhan bangunan. Bangunan gereja yang baru dirancang berukuran sedikit lebih besar dibandingkan dengan gereja lama yakni berukuran 12×35 m2, dengan konstruksi baja dengan ketinggian 12 meter dari lantai gereja. Dalam penggarapannya, bangunan gereja baru dibuat mengurung gereja lama yang maksudnya agar pada pelaksanaan konstruksi, kegiatan liturgy dan kegiatan gereja yang menggunakan ruangan gereja lama tidak terganggu. Segera setelah bangunan baru ditutup dengan atap genteng Tilux, bangunan gereja lama dibongkar secara keseluruhan. Altar pada bangunan gereja baru mempunyai ukuran 6×12 m2, dimana pada bagiannya terdapat sebuah salib besar yang seolah-olah berpijak diatas tabernakel dan altar kecil yang terbuat dari baru marmer berwarna putih. Konon, salib besar yang terbuat dari besi tuang tersebut didatangkan dari kota Breda Negeri Belanda dan dibuat tahun 1888 dan rupanya memiliki sejarah yang sangat panjang. Sebelum berdiri di halaman depan Gereja Santo Paulus Sampangan salib besar tersebut diambil dari pemakaman Kristen Kobong, Kaligawe Kota Semarang sewaktu kuburan kobong dilakukan pembongkaran oleh Pemerintah Kota Semarang Bangku umat yang terbuat dari kayu mahoni, diadakan dengan dana yang dihimpun oleh seluruh umat di lingkungan Gereja Santo Paulus Sampangan dan diperkirakan dapat menampung sekitar 500 orang.

Homili Mgr. Ignatius Suharyo, Pr

Paduan suara atau koor yang bertugas pada setiap perayaan Ekaristi, ditempatkan pada ruangan tersendiri di sebelah kiri altar. Bangunan gereja baru berdiri diatas tanah yang berukuran 23×50 m2. Meskipun lahan yang ada sangat sempit, namun masa bangunan yang ada diorganisasikan sedemikian rupa, sehingga Gereja Santo Paulus Sampangan dilengkapi pula dengan beberapa fasilitas dan utilitas yang cukup memadai diantaranya adalah:

  1. Ruang transit Romo, yang dilengkapi dengan kamar tamu.
  2. Fasilitas pendidikan berupa Taman Kanak-kanak Indriasana III
  3. Ruang poliklinik
  4. Ruang rapat, baik rapat harian, rapat seksi maupun rapat pleno
  5. Kamar pengakuan dosa, rumah koster, parkir dan kamar mandi.

Renovasi gereja akhirnya selesai dan diresmikan oleh Uskup Agung Semarang Mgr. Ignatius Suharyo, Pr pada hari Sabtu, 6 Oktober 2001. Perkembangan selanjutnya renovasi terus dilakukan seperti penambahan bangunan lantai II yang digunakan untuk rumah koster dan pembuatan Gua Maria di sudut lapangan parkir kendaraan roda dua. Perombakan juga terjadi di bagian altar gereja, yaitu tampilan atau background salib yang semula berupa kayu menjadi pola permainan warna. Begitu pula dengan background pada patung Bunda Maria dan Yesus dengan corak yang sama. Altar juga menjadi tampak megah dan hidup dengan permainan cahaya lampu sorot. Perubahan juga terdapat pada fungsi-fungsi bangunan. Misalnya, ruang kantor TK Indriasana III beralih fungsi menjadi ruang kelas playgroup, ruang poliklinik beralih fungsi menjadi kantor TK Indriasana III, poliklinik sendiri pindah ke garasi belakang satu bangunan dengan ruang transit romo. Semua hal tersebut diharapkan bisa memaksimalkan fungsi dari bangunan yang telah dibuat. Memperhatikan pada fungsi-fungsi yang ada dalam bangunan Gereja Katolik Santo Paulus Sampangan seperti disebutkan di atas, keberadaan “gereja” ditengah-tengah keberagaman warga masyarakat sekitar bukan sekedar sebagai tempat beribadat tetapi merupakan sarana yang mampu mempersatukan kumpulan umat beriman dalam memancarkan sinar kasih dalam bentuk karya nyata ditengah-tengah masyarakat plural.

Hadirnya gereja Santo Paulus Sampangan juga mendapat dukungan penuh dari pemerintah Kota Semarang. Jalinan keakraban yang baik dan komunikasi yang lancar dengan masyarakat sekitarnya menjadi alasan kuat bagi pemkot Semarang dalam mendukung kehadiran gereja ini.

Gereja makin hari kian berbenah dalam tampilan dan manfaatnya bagi masyarakat yang ada di sekitarnya. Perkembangan lahan parkir yang luas menjadi terasa manfaatnya bagi masyarakat sekitar yang membutuhkan untuk lahan parkir. Bahkan bila ada acara masyarakat sekitar yang sekiranya membutuhkan lahan, maka gereja mengulurkan bantuan dengan cara meminjamkan lahan parkir tersebut.