Lingkungan Santo Stefanus – Transpuri

Sejarah lingkungan

Lingkungan Transpuri terbentuk pada tahun 2003 sebagai wujud pengembangan dari Lingkungan Tugu Soeharto II (Sekarang Lingkungan St. Agustinus-Sukorejo). Sejalan dengan perkembangan jumlah umat Katolik terutama sebagai penghuni baru di Perumahan-perumahan yang terdapat di Kelurahan Sukorejo dan sekitarnya, maka dirasakan perlu dibentuk lingkungan tersendiri agar lebih mudah dan efektif dalam koordinasi dan pengelolaan. Nama Transpuri sendiri merupakan akronim dari lingkup daerah yang ada di dalam lingkungan, yaitu TRangkil-bANaran-Sekaran-PUri sartika-deliksaRI. Di dalamnya terdapat Perumahan Permata Safira, dan dalam kenyataannya ada Perumahan Sekar Gading dan sekitarnya, Kelurahan Kalisegoro. Lingkungan Transpuri secara resmi diumumkan kepada umat di Wilayah Sampangan dalam Misa Ulang Tahun Wilayah di Gereja Santo Paulus Sampangan pada bulan Juni 2003. Umat lingkungan mengangkat Santo Stefanus sebagai santo pelindung merupakan lingkungan ke-12 di Wilayah Sampangan. Saat ini umat yang berada di lingkungan Transpuri ada kurang-lebih 54 KK warga Katolik. Jumlah tersebut belum tercakup seluruhnya. Ada beberapa umat yang belum terdata karena letak lokasi yang berjauhan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi lingkungan Transpuri.

 

Kegiatan – kegiatan lingkungan

Sebagaimana sebuah lingkungan, lingkungan Transpuri mempunyai jadwal kegiatan-kegiatan rutin di lingkup lingkungan, antara lain Misa Lingkungan, Ibadat-ibadat, Sarasehan, Perayaan Natal, Ziarah, Latihan Koor, Arisan WK, dan lain-lain. Lingkungan ini pernah meraih juara I lomba koor antar lingkungan pada tahun 2016 di wilayah Sampangan.

Karena banyak perumahan baru, sampai sekarang pun masih relatif sering diadakan Misa Pemberkatan Rumah. Hanya saja karena belum banyak anak-anak yang masuk kategori muda-mudi, maka kegiatan OMK belum berjalan.