Lingkungan Santo Agustinus – Sukorejo

Sejarah St. Agustinus

Merupakan orang yang termasyur, beliau dimasukan disekolah ternama di Afrika Utara, Roma, dan Melamo, karena ketekunannya membaca buku-buku ilmiah dan belajar dari orang-orang pintar sehingga menjadikan beliau sebagai maha guru, namun waktu itu beliau masih kafir.  

Beliau mengikuti kepercayaan “Monoteisme” dari Persia. Namun jiwanya bergejolak, hidupnyapun tidak terasa tenteram. Ibunya, Monica mengharapkan agar Agustinus selalu membaca sabda Tuhan, supaya mendapatkan kebijaksanaan dan ketentraman. Namun, Agustinus malah mencemooh Kitab Suci, ia menganggap kitab suci tidak dapat memberikannya pengetahuan apa-apa. Ibunya tetap sabar dan berdoa, hingga suatu ketika Agustinus bertemu Uskup Ambrosius, bekas gubernur di Melamo. Dari situ Ia melihat kehidupan biarawan yang penuh dengan suka cita, kebijaksanaan, dan kedamaian.

Ia merenung dan pada waktu itu pula Ia mendengar suara seorang anak, namun tidak terlihat wujudnya. “Ambil dan bacalah; mari kita hidup sopan pada siang hari, jangan membunuh, jangan berzinah, cintailah Tuhan Allahmu lebih dari segala sesuatu”. Akhirnya, terbukalah hatinya, beliau mendapat wahyu Illahi. Pada umur 32 tahun beliau dibaptis, 7 bulan sesudahnya ibunya meninggal dengan tenang St Agustinus kembali ke Afrika, ia ditahbiskan sebagai imam. Pada waktu umur 41 tahun, ia diangkat sebagai uskup di Hipo. Ia dikenal sebagai pujangga gereja, karena membuat buku “Pengakuan dan Negara Tuhan”. Beliau wafat tahun 340. Beliau adalah santo pelindung bagi para imam.

 

Sejarah Lingkungan

Dulu dikenal dengan lingkungan Tugu Soeharto, kemudian dipecah menjadi Tugu Soeharto I dan Tugu Soeharto II , dan lingkungan ini mendapat wilayah Tugu Soeharto II karena pengembangan umat. Tugu Soeharto II terpecah lagi menjadi 2 yaitu, Transpuri (Trangkil, Puri Sartika) dan lingkungan St. Agustinus. Sebelumnya lingkungan ini mengambil nama pelindung St. Yoseph, akan tetapi, sudah dipakai lingkungan lain. Akhirnya, diambilah nama pelindung St. Agustinus, dalam pengambilan nama tersebut sempat menjadi pertentangan karena ada yang menganggap St. Agustinus diambil dari seorang Romo baru dari lingkungan tersebut, sehingga ada sebagian umat yang tidak setuju. Pengambilan nama St. Agustinus karena keteladanannya sebagai pelindung para imam (pelindung Seminari) diharapkan warga lingkungan ini bisa menjadi pelayan gereja. Lingkungan ini juga memiliki paguyuban paguyuban diantaranya OMK dan PIA.

 

Kegiatan – kegiatan lingkungan

Lingkungan ini memiliki banyak kegiatan seperti :

  1. Ibadat malam Jumat Kliwon di Gua Maria Sartika.
  2. Bersih – bersih Taman Doa Gua Maria Sartika
  3. Pertemuan Ibu-ibu setiap Minggu Pertama
  4. Ziarah / Wisata rohani
  5. Retret / rekoleksi / seminar lingkungan
  6. Persiapan tugas koor

Disamping kegiatan tersebut ada kegiatan yang menyesuaikan wilayah, salah satunya adalah misa Adven. Dari perkembangan lingkungan dilihat dari program kerja salah satunya dari program kerja OMK, Sekolah Minggu, pertemuan rutin, koor, usaha pencarian dana (penjualan kalender), wisata rohani, kesenian (drama), ibadat adven.

Di lingkungan ini memiliki Gua Maria. Untuk mendirikan gua ini, dana diusahakan oleh umat lingkungan seperti iuran dan donatur, disamping itu mengundang perhatian uskup sehingga beliaupun ikut membantu, dan dari umat lingkungan lain. Gua Maria tersebut didirikan di atas tanah pemberian mbah Barno, salah satu umat di lingkungan ini. Pembangunan Gua Maria ini tidak luput dari kendala-kendala. Pembangunan ini, sempat disidangkan karena ketidaksetujuan pemuka agama non Katolik di luar wilayah. Dalam sidang tersebut mencapai kesepakatan bahwa Gua hanya digunakan sebagai kapel atau untuk kalangan sendiri (lingkungan), alasannya bila menjadi tempat ziarah ditakutkan mengganggu masyarakat sekitar.