Kerendahan Hati dan Keterbukaan OMK Gereja Santo Paulus Sampangan

Komunitas Orang Muda Katolik (OMK) menjadi warna baru bagi Muda-mudi Katolik (OMK). OMK ialah seorang yang beragama Katolik dan berusia muda yaitu 13 hingga 35 tahun dan dalam keadaan lajang. Dalam bahasa Inggris, OMK ialah ‘Catholic young people’, atau ‘Catholic youth’. Inti dari istilah OMK ialah, agar orang muda Katolik bersatu padu dan berjejaring satu sama lain, berkegiatan dan belajar mempersiapkan estafet misi dalam Gereja Katolik dan masyarakat di masa depan. Gereja sendiri menempatkan OMK tepat di dalam ‘jantung’nya. Paus dan para uskup menyadari benar bahwa Gereja masa kini tanpa orang muda hanyalah museum di masa depan (Rm. Yohanes Dwi Harsanto).

Perkembangan yang signifikan Orang Muda Katolik khususnya dalam rangka memenuhi kebutuhan tim dokumentasi dan multimedia, kami mencoba membentuk komunitas ‘Sinematografi dan Fotografi Kaum Muda Sampangan’ yang biasa disebut MATAFOKUS. Selain itu, OMK Sampangan pun membentuk grup musik dengan nama OMKustik, yang sudah berani tampil dalam acara Pesta Santo Pelindung Gereja Sampangan dan ramah tamah di Wisma Uskup KAS.

Orang Muda Katolik di Gereja St. Paulus Sampangan mengalami pasang surut dalam berkegiatan, seperti pada saat persiapan Natal dan Paskah banyak OMK yang terlibat, namun ketika mengadakan kegiatan seperti futsal, latihan koor, atau berdoa rosario bersama hanya beberapa saja yang bisa berpartisipasi. Hal lain yang tidak terlihat namun sangat besar dampaknya yaitu adanya perbedaan pendapat sehingga mengakibatkan OMK Sampangan seolah ‘terbagi’ menjadi beberapa kelompok kecil.

Demi meningkatkan komunikasi dan semangat dalam pelayanan gerejani, saya mengajak teman-teman OMK Sampangan untuk bersikap rendah hati, meninggalkan ego pribadi, dan bersikap saling terbuka. Tentunya, dengan berbagai latar belakang pendidikan dan keluarga, akan membuat OMK Sampangan semakin kaya dan beragam, maka dengan bimbingan Roh Kudus pula OMK dapat saling mengisi dan melengkapi satu sama lain.

Sebagai putra dan putri, kami sebagai OMK memohon doa dan dukungan dari bapak ibu, sebagaimana yang disampaikan oleh Mgr. Albertus Soegijapranata berikut: “Bapak-bapak dan ibu-ibu, didiklah anak-anakmu secara Katolik dan Nasional agar tetap lestari, berkembang dalam hal rohani dan jasmani, dengan memperhatikan agama dan kebangsaannya agar tetap teratur siap melaksanakan tugas rohani dan tugas umum lainya sebagaimana mestinya”, (kutipan Surat Kegembalaan Februari, 1956).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *