FILOSOPI AKAR

   Akar, ia tak telihat secara utuh karena “selalu bersembunyi”  di dalam permukaan tanah. Kalaupun dapat terlihat, hanya punggungnya saja. Ia selalu merunduk, tak pernah punya keinginan menunjukkan wajahnya.
   Akar bisa memberikan kekuatan pada batang untuk berdiri tegak. Akar memberikan banyak manfaat untuk ranting, daun, bunga bahkan buah. Tapi, apakah kemudian orang – orang di sekitarnya akan menyadarinya dan berterima kasih padanya? Sejauh ini,  bunga maupun buah terlihat lebih bernilai daripada akar.
   Gereja Santo Paulus Sampangan (GSPS) dapat tumbuh dan berkembang karena “akarnya” adalah Sang Kristus. Kasih setia dan kemurahan hatiNya selalu terpancar melalui orang – orang yang berserah penuh dan berpegang teguh padaNya, sehingga GSPS dapat berulang tahun yang ke – 40 pada saat ini.Akankah kasih dan kemurahan hatiNya hanya dipendam dalam hati saja? Ataukah kita sebagai perwujudan “bunga” maupun “buah” dari akar tersebut dapat berperan serta dalam mewartakan kasih nyata di kehidupan sehari – hari.Marilah kita belajar bersama – sama melakukan hal yang dilakukan oleh Yesus Kristus, sebagai akar yang menebarkan kasih serta kemurahanNya di tengah – tengah suasana jaman yang mengagungkan paham ego sentris dan hedonisme. Sehingga hadirnya Gereja Santo Paulus Sampangan di lingkungan masyarakat yang heterogen, dapat dilihat dan dirasakan kasihnya yang nyata.

(sumber gambar: google “root”)

Akar tak menampilkan keanggunan.
Akar tak memikirkan sanjungan.
Baginya, yang utama bisa memberikan manfaat.
Baginya, melihat kebahagiaan adalah cukup.
Dan mulai kapan, filosopi akar akan selamanya kita pegang?

 

Salam,

Guyub, Sukacita, Peduli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *