Dukungan Penuh Orangtua dalam Pertumbuhan Iman Anak

Bagi gereja yang merayakan ulang tahun ke 40 tahun, bolehlah kita berbangga atas perkembangan iman anak. Sebagai seorang pengajar baptis, komuni pertama, dan krisma, saya merasa bersyukur atas semangat calon baptis, komuni pertama, maupun pengukuhan. Mereka antusias dalam mengikuti pelajaran. Kebanggan tak cukup sampai disitu. Semangat mereka untuk terus berkarya, seperti anak anak kecil yang menjadi misdinar dan yang remaja ikut dalam kegiatan OMK baik di lingkungan maupun di wilayah, sungguh mengagumkan. Sehingga iman mereka tumbuh berkembang dan tidak padam dan mati. Pelajaran yang mereka terima bisa mereka terapkan dalam kehidupan sehari – hari.

Sebenarnya perkembangan gereja itu menjadi lebih baik dan bermakna apabila ada dukungan penuh dari orangtua agar anak – anak aktif dalam kegiatan mengereja baik itu di lingkungan ataupun wilayah. Seperti yang pernah dikatakan oleh Romo Hantoro bahwa orangtua berperan sangat penting dalam pertumbuhan iman anak – anak mereka. Apabila orang tua tidak ambil bagian dalam hal itu, maka pertumbuhan iman anak anak akan sia – sia.

Ada beberapa keluarga Katolik yang sudah merasa cukup puas bila anak – anak mereka sudah dibaptis, sudah bisa komuni maupun telah Krisma. Para orang tua tidak mendukung lebih jauh lagi anak – anak mereka untuk berkembang lebih jauh lagi dalam mengikuti kegiatan gereja. Bagi umat Islam, anak – anak mereka sedari kecil sudah diikutkan dalam kegiatan pengajian. Hal ini sungguh menjadi kebalikan di gereja, khususnya GSPS. Hal ini dapat dilihat dalam keikutsertaan anak – anak. Contoh, di dalam kegiatan sekolah minggu hanya sekitar 20 anak saja yang ikut. Padahal jumlah anak – anak di GSPS lebih dari itu. Contoh lain dapat dilihat dalam persiapan komuni serta krisma. Banyak yang mengikuti proses pembelajaran dan pada akhirnya mendapatkan sakramen Baptis maupun Sakramen Krisma. Setelah proses pembelajaran itu selesai, ya mereka menganggap bahwa apa yang mereka lakukan juga selesai. Mereka tidak lagi berkumpul dengan teman seimannya untuk melakukan kegiatan rohani baik di lingkungan maupun di wilayah karena tidak adanya dukungan yang penuh dari orangtua mereka. Kesibukan harian menjadi alasan utama agar anak – anak tidak ikut ambil bagian dalam kegiatan baik di lingkungan maupun di wilayah.

Seorang katekis itu yang penting punya kemauan untuk memperluas kerajaan Allah. Disamping itu juga mendorong diri sendiri agar punya keinginan untuk mewartakan kerajaan Allah. Dasarnya adalah untuk lebih menuju kepada kesadaran diri sendiri. Terkadang, bisa dilihat bahwa ada orang – orang yang tanpa kursus untuk menjadi seorang katekis, mereka malah sudah memiliki kesadaran diri yang luar biasa dalam mewartakan kerajaan Allah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *